Senin, 04 Januari 2010

APAKAH SATELIT PALAPA DAN INDONESIA SUDAH MENYATU?


SATELIT PALAPA

Palapa ialah nama bagi sejumlah satelit telekomunikasi geostasioner Indonesia. Nama ini diambil dari “Sumpah Palapa”, yang pernah dicetuskan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1334.
Satelit pertama diluncurkan pada tanggal 8 Juli 1976 oleh roket Amerika Serikat dan dilepas di atas Samudera Hindia pada 83° BT. Satelit pertama dari 2 satelit itu bertipe HS-333 dan bermassa 574 kg.
Kemudian 4 satelit dari seri kedua dibuat, yang kesemuanya dari tipe Hughes HS-376. Ketika peluncuran Palapa B2 gagal, satelit ke-3 diatur. Awalnya bernama Palapa B3 dan dijadwalkan untuk STS-61-H, akhirnya diluncurkan sebagai Palapa B2P. Sementara itu Palapa B2 dibetulkan kembali oleh STS-51-A, diperbaharui dan diluncurkan lagi sebagai Palapa B2R.
Palapa-D dipesan pada tanggal 29 Juni 2007 oleh perusahaan Indonesia PT Indosat Tbk, kepada Thales Alenia Space. Itu adalah Spacebus 4000B3 yang akan dibuat di Pusat Luar Angkasa Cannes Mandelieu.

Palapa B2P
Satelit Palapa B2P adalah satelit yang mengitari orbit geosynchronous dan bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan yang sama dengan rotasi Bumi. Satelit ini terletak pada ketinggian 36.000km diatas khatulistiwa pada lokasi 113°BT dan dikendalikan oleh stasiun yang terletak di Bumi tepatnya di daerah Cibinong. Satelit Palapa merupakan satelit relay bagi stasiun bumi yang selanjutnya memancarkan kembali siaran ke televisi dengan transponder Palapa yang bekerja pada jarak 6 gigahertz dengan kekuatan pancar 10 watt.
Satelit Palapa B2P yang sesungguhnya dibuat untuk keperluan domestik serta ditujukan untuk disewakan ke mancanegara ternyata mampu menjaring bisnis yang sangat baik, dan karenanya Palapa B2P menjadi satelit rebutan. Para penyelenggara penyiaran (CNN, ESPN) menggunakan Palapa B2P, sehingga masyarakat yang berada dalam area cakupan Palapa B4 dapat menerima program-progam mereka.Satelit palapa adalah benda yang bisa di gunakan sebagai alat komunikasi antar sesama warga negara Indonesia dari sabang sampai merauke.
Yang bisa menyatukan Indonesia adalah rakyatnya, bukan satelitnya.
Satelit palapa dibangun dengan uang rakyat yang tidak sedikit.
Yang paling untung dari satelit palapa adalah mereka yang bisa memanfaatkannya dengan baik,
Untuk kita sebagai rakyat jika bisa turut andil dalam penggunaan satelit maka merekalah yang paling bisa menikmati manfaat satelit.
Secara teknis satelit palapa sudah mampu mengover seluruh wilayah Indonesia. Memang peluncuran perdana satelit palapa pada era tahun 70'an antara lain merupakan dari Wawasan Nusantara, dimana persatuan dan keutuhan bangsa dan negara ini dapat terjaga.
Penggunaan satelit ini tentunya dibangun dan digunakan oleh perusahaan telekomunikasi di Indonesia, kita tidak bisa bayangkan bahwa hingga era akhir 70 kita masih mengandalkan kabel laut, maka akan sangat sulit komunikasi ke seluruh kepulauan di Indonesia. Dengan komunikasi satelit menjadi sangat mudah, meski biaya menjadi cukup mahal.
Saat ini komunikasi satelit sudah mendapat saingan dari media fiber optic dan radio frekwensi tinggi (HF) yang relatif lebih murah, namun untuk wilayah timur Indonesia belum terjangkau sepenuhnya, sehingga masih mengandalkan satelit.
Manfaat secara politis atas satelit tsb sebagai alat pemersatu bangsa dan negara pada saat ini tentunya sedikit berbeda, hal ini karena hingga saat ini masih terdapat beberapa anggota masyarakat di propinsi ujung barat dan ujung timur masih mencoba memisahkan diri dari NKRI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar